MENINGKATKAN KEMAMPUAN MAHASISWA DALAM MEMECAHKAN MASALAH MELALUI KEGIATAN LABORATORIUM DI JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA FPMIPA UPI
DOI:
https://doi.org/10.18269/jpmipa.v6i1.34980Keywords:
Firsthand experience, experiment, inquiry,, learning outcomeAbstract
Sulitnya mahasiswa dalam menghubungkan konsep-konsep fisika dasar terhadap berbagai kegiatan laboratorium menyebabkan mahasiswa tidak dapat bekerja di laboratorium dengan baik, sehingga kemampuan mahasiswa dalam mengembangkan ilmunya tidak maksimal. Penelitian ini telah mengembangkan model pembelajaran yang berkaitan dengan kerja mahasiswa di laboratorium.Metode Eksperimen dengan desain pre-post tes satu kelompok dipilih untuk mencoba mengembangkan model pembelajaran Laboratorium Fisika Dasar II yang terdiri dari 3 bagian pengajaran yaitu (1) presentasi dan diskusi tentang persiapan percobaan, (2) pelaksanaan eksperimen, dan (3) presentasi dan diskusi hasil percobaan. Hasil penelitian menunjukkan: Pada Tahap persiapan : kemampuan mahasiswa dalam merencanakan percobaan memiliki kategori cukup, namun kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi variabel-variabel terkait memiliki kategori rendah (1.13). Pada Tahap pelaksanaan : Kemampuan dalam melaporkan hasil eksperimen dan bekerja sama memperoleh skor yang paling tinggi (+ 73) sedangkan kemampuan terendah pada pemahaman spesifikasi alat yang berkaitan dengan ketrampilan mahasiswa dalam menggunakan alat ukur. Sebagian besar mahasiswa memiliki kemampuan dalam pengolahan data dan pelaporan serta kemampuan dalam menyimpulkan hasil eksperimen (+ 87%), sedangkan kemampuan menganalisis data hanya 14 % mahasiswa yang dapat menganalisa dari temuan data yang diperolehnya. Hasil Belajar mahasiswa setelah pembelajaran meningkat secara signifikan pada taraf kepercayaan 95%. Analisis gain sebelum dan sesudah pembelajaran diperoleh bahwa rata-rata gain skor ternormalisasi yang diperoleh yaitu 0.66, tingkat perolehan skor tersebut termasuk pada kategori sedang.
Downloads
References
Amin, Moh. (1988). Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam dengan Menggunakan Metode Discovery dan Inquiry. Jakarta: Depdikbud.
Arons, Arnold, B. (1994). Homework and Test Question for Introductory Physics Teaching. New York: John Wiley and Sons. Inc.
Collete, Alfre, T. &Chiappetta, Eugene, L. (1994). Science Instruction in The Middle and Secondary School (Third ed.) New York: Maxwell Macmillan International.
Killen, Roy. (1998). Effective Teaching Strategies, Lesson from Research and practice (second ed.). Australia: Social Science Press.
Lawson A., E. (1994). Science Teaching. California : Wadsworth Publishing Comp. Belmont.
McDermott, L.C. (1990). “A Perspective on Teacher Preparation in Physics and Other Sciences : The Need for Special Science Course for Teacher”. American Journal of Physics. 58 (6) 56-61.
National Research Council. (1996). National Science Education Standards. Washington DC : National Academy Press.
Renner, J.W. dan Lawson, A.E. (1973). “Promoting Intellectual Development Through Science Teaching”. The Physics Teacher. 11 (5) 113-120.
Savinainen, A. & Scott, Philip. (2002). The Force concept inventory: A tool for monitoring Student Learning, Physics Education. 37 (1), 45-52.
Suprapto. B. (2000). Hakikat Pembelajaran MIPA (Fisika) di Perguruan Tinggi. Proyek Pengembangan Universitas Terbuka Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Jakarta : Depdiknas.
Tee, Tan Boo. (1996). Black boxes praktical: Problem solving skills among preservice primary student teacher in Brunei Darusalam. Journal of Science and Mathematics Education in South East Asia. XVIII, (1), 1-15.
The Houw Liong & Suprapto, B. (2000). Kiat Pembelajaran Fisika di Perguruan Tinggi. Proyek Pengembangan Universitas Terbuka Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Depdiknas.
White, Richard T. (1996). The Linc between the laboratory and learning, International Journal of Science Education. 18 (7), 761-774.
Downloads
Published
Issue
Section
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
