Analisis Penampang Resistivitas 2D Metode Magnetotellurik dan Audio-magnetotellurik untuk Mengetahui Sistem Petroleum pada Cekungan Singkawang

Authors

  • Rizky Kurniawan Program Studi Fisika, Universitas Pendidikan Indonesia, Indonesia
  • Nanang Dwi Ardi Program Studi Fisika, Universitas Pendidikan Indonesia, Indonesia
  • Hidayat Hidayat Pusat Survei Geologi, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.17509/wafi.v4i2.21869

Keywords:

sistem petroleum, cekungan Singkawang, metode magnetotelurik, metode audio-magnetotelurik

Abstract

Indonesia memiliki cadangan minyak bumi potensial yang cukup banyak, salah satunya terdapat pada Pulau Kalimantan. Pada bagain barat pulau ini memiliki cekungan besar, yakni Cekungan Melawi dan Cekungan Ketungau. Kedua cekungan ini diperkirakan berumur pra-tersier. Tetapi, kedua cekungan ini tidak memiliki potensi ekonomis untuk migas konvensional, dan diperkirakan ada satu cekungan lain yang beumur sama dengan kedua cekungan ini. Cekungan ini dikenal sebagai Cekungan Singkawang. Cekungan ini diperkirakan memiliki sistem petroleum yang tersusun dari formasi Batupasir Kayan, Formasi Pendawan, Formasi Brandung, Kelompok Bengkayang serta Formasi Seminis. Untuk menganalisis struktur ini, digunakan metode magnetotellurik dan audio-magnetotellurik yang memanfaatkan medan elektomagnetik alam. Data yang diperoleh dari kedua metode ini masing-masing terdiri dari 14 titik dengan 2 lintasan. Lintasan pertama terdiri dari 10 stasiun pengukuran dan lintasan kedua dengan 5 titik pengukuran. Data ini merupakan data yang didapatkan dari rentang frekuensi 320 – 0,00034 Hz untuk metode magnetotellurik dan 3,3 – 10400 Hz untuk metode audio-magnetotellurik. Berdasarkan kedua metode ini, diperoleh lapisan dengan nilai resistivitas dengan rentang 4 – 54 Ωm yang diperkirakan sebagai Kelompok Bengakayang yang berpotensi sebagai batuan sumber (source rock). Sedangkan lapisan dengan nilai resistivitas 119 – 437 Ωm diperkirakan sebagai Vulkanik Raya dan 1611 – 3532 Ωm sebagai Granodiorit Mensibau. Kedua formasi ini diperkirakan sebagai batuan reservoir (reservoir rock), meskipun untuk penentuan jenis batuan ini sebagai batuan reservoir harus diteliti lebih lanjut lagi.

References

Sekretariat Jendral Dewan energi Nasional. (2016). Outlook Energi Indonesia 2016. Jakarta: Dewan Energi Nasional.

Doust, H., Noble, R. A. (2008). Petroleum systems of Indonesia. Marine and Petroleum Geology, 25: 103-129.

Santy, L. D., Panggabean, H. (2013). The Potential of Ketungau and Silat Shales in Ketungau and Melawi Basins, West Kalimantan: For Oil Shale and Shale Gas Exploration. Indonesian Journal of Geology, 8(1): 39-53.

Unsworth, M. (2005). New Developments in Conventional Hydrocarbon Exploration With Electromagnetic Methods. CSEG RECORDER: 34-38.

Simpson, F., Bahr, K. (2005). Practical Magnetotelluris. Cambridge: Cambrdige University Press.

Sidharta, R.R., Yatini (2018). Identifikasi Keberadaan Organic Shale Berdasarkan Analisis Data Magnetotellurik Pada Cekungan Kutai. Wahana Fisika, 3(1): 19 – 30.

Rodi, W., Mackie, R. L. (2001). Nonlinear conjugate gradients algorithm for 2-D magnetotelluric inversion. Geophysics, 66(1): 174-187.

Borradaile, G. (2014). Understanding Geology Through Maps. Amsterdam: Elsevier.

Supriatna, S., Margono, U., Sutrisno, Keyser, F. d., & Langford, R. (1993). Peta Geologi Lembar Sanggau. Bandung: Pusat Penilitian dan Pengembangan Geologi.

Ginger, D., Fielding, K. (2005). The Petroleum Systems and Future Potential Of The South Sumatera Basin. Proceeings, Indonesia Petroleum Association thirtieth Annual Convention & Exhibition, 30(1): 67-89.

Published

2019-12-31

Issue

Section

Articles

How to Cite

Kurniawan, R., Ardi, N. D., & Hidayat, H. (2019). Analisis Penampang Resistivitas 2D Metode Magnetotellurik dan Audio-magnetotellurik untuk Mengetahui Sistem Petroleum pada Cekungan Singkawang. Wahana Fisika: Jurnal Fisika Dan Terapannya, 4(2), 81-88. https://doi.org/10.17509/wafi.v4i2.21869