Identifikasi Akuifer Berdasarkan Metode Geolistrik Susunan Schlumberger di Kecamatan Pejagoan, Kebumen
DOI:
https://doi.org/10.17509/wafi.v4i1.14303Keywords:
geolistrik, susunan Schlumberger, vertical electrical sounding, akuiferAbstract
Identifikasi air tanah menggunakan metode geolistrik susunan Schlumberger telah dilaksanakan di kecamatan Pejagoan, Kebumen. Pejagoan ini merupakan salah satu kecamatan di Kebumen yang cukup cepat perkembangan penduduknya, sehingga kebutuhan sumberdaya air juga meningkat. Setiap musim kemarau resiko kekurangan air selalu terjadi di bagian utara wilayah kecamatan. Penelitian tentang potensi airtanah dalam masih jarang dilakukan, sehingga dilakukanlah kegiatan ini. Susunan Schlumberger adalah bagian dari metode geolistrik untuk mengetahui variasi litologi bawah permukaan melalui perbedaan tahanan jenis batuan. Pengukuran geolistrik dilakukan di 13 lokasi secara sounding, panjang bentangan rata-rata 200-250 meter, dengan kedalaman yang dihasilkan antara 65 meter sampai 140 meter. Berdasarkan nilai tahanan jenis, dapat diinterpretasikan litologi yang dijumpai berupa soil, batu lempung tufaan basah, batupasir tufaan basah, batupasir tufaan kering, batu gamping dan tufa kering. Soil terdapat pada lapisan paling atas, dengan kedalaman <10 meter, ditandai dengan nilai tahanan jenis yang tidak sepenuhnya stabil. Batulempung tufaan basah mempunyai nilai tahanan jenis kecil (kurang dari 20 ohmmeter). Batupasir tufaan basah dengan nilai tahanan jenis 20-100 ohmmeter. Batupasir tufaan kering dan batugamping nilai tahanan jenis antara 100 – 1.000 ohmmeter, sedangkan nilai tahanan jenis sangat besar (>2.000 ohmmeter) diinterpretasikan sebagai tufa kering. Litologi yang dapat berfungsi sebagai akuifer setengah permeabel adalah batulempung tufaan basah dan batupasir tufaan basah. Batulempung tufaan basah berada pada kedalaman 9 - 16 m, banyak mengalami kekar sehingga dimungkinkan sebagai akuifer dangkal. Batupasir tufaan basah, pelamparannya lebih luas dapat berfungsi sebagai akuifer setengah permeabel adalah batulempung tufaan basah dan batupasir tufaan basah. Batulempung tufaan basah berada pada kedalaman 9 - 16 m, banyak mengalami kekar sehingga dimungkinkan sebagai akuifer dangkal. Batupasir tufaan basah, pelamparannya lebih luas dapat berfungsi sebagai akuifer pada kedalaman 52 m dengan ketebalan 38 m. Sedangkan sebagai akuifer dangkal terdapat pada kedalaman 4 meter sampai 13 meter. Potensi air tanah pada akuifer dangkal sangat dipengaruhi oleh kondisi musim.
References
Sapari. D.H.M., dkk. (2006). Sebaran Akuifer dan Pola Aliran Air Tanah di Kecamatan Batuceper dan Kecamatan Benda, Kota Tangerang, Provinsi Banten, Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 1, No.3, hal. 115-128.
Halik, G., Widodo, S.,J. (2008). Pendugaan Potensi Air Tanah dengan Metode Geolistrik Konfigurasi Schlumberger di Kampus Tegal Broto Universitas Jember, Media Teknik Sipil, hal. 109-114.
Asikin, S., Harsolumakso, A.H., Busono, H., Gafoer, S. (1992). Peta Geologi Lembar Banyumas, P3G Bandung.
Anonim. (1992). Standar Metoda Eksplorasi Air Tanah dengan Geolistrik Susunan Schlumberger, SNI 03-2818-1992, Departemen
Pekerjaan Umum, Jakarta.
Bisri, Mohammad. (1991). Aliran Air Tanah Malang, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.
Azhar, Handayani, G. (2004). Penerapan Metoda Geolistrik Konfigurasi Schlumberger untuk Penentuan Tahanan Jenis Batubara, Jurnal Natur Indonesia, Vol 6, No. 2, hal. 122-126, ISSN 1410-9379.
Ardi, N. D., et al. (2018). J. Phys.: Con. Ser., Vo. 1013, pp. 012185.
Todd, D.K. (1980). Groundwater Hydrology. John Wiley and Sons, New York.
Utaya, Sugeng. (1990). Pengantar Hidrogeologi: Konsep Dasar Hidrologi, Universitas Negeri Malang.
Telford, W M, et al. (1990). Applied Geophysics Second Edition, New York: Cambridge University Press.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2019 Wahana Fisika: Jurnal Fisika dan Terapannya

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


Licensed: Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.